Beranda » » Hukum Menangisi Orang Yang Meninggal

Hukum Menangisi Orang Yang Meninggal

Ditulis oleh Wawan Se pada Thursday, August 7, 2014 | Thursday, August 07, 2014

menangis

KOMPASnia-Menangisi Mayatatau orang yang telah meninggal kerab kaliterjadi bukan hanya dari umat muslim melainkan dialami oleh seluruh manusia.

Ketika seorang muslim menerima suatu musibah, baik yang menimpa jiwanya, hartanya, atau keluarganya, maka dia akan mengembalikan hal itu kepada Allah dan akan merelakan serta akan mengucapkan kalimat istirja:“Innaa lillahi wa innaa ilaihi raajiu`uun`”(kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya) dan berdoa “Ya Allah, berilah aku pahala atas musibah yang menimpaku dan berikan aku pengganti yang lebih baik”Kita tidak dilarang untuk menangisi mayat, selama itu tidak berlebih-lebihan atau sampai keluar dari syariat yang menentang takdir.

Rasulullah saw dahulu pernah menangisi kematian beberapa orang, saat kematian anaknya Ibrahim, ketika Hamzah pamannya syahid, dan ketika beliau mengunjungi Sa`d bin Ubadah. Beliau bersabda,“Sesungguhnya wajar jika mata menangis, hati bersedih, dan kita hanya diperbolehkan mengatakan hal-hal yang diperbolehkan oleh Allah swt.

Sesungguhnya kami semua bersedih atas kepergianmu wahai Ibrahim”Rasulullah juga pernah bersabda,“Sesungguhnya Allah tidak mengazab berdasarkan air mata atau hati yang sedih.

Namun, Dia mengazab atau mengasihi berdasarkan ini,” beliau menunjuk lidanya dan melanjutkan sabdanya, “Sesungguhnya seorang mayat akan disiksa disebabkan tangisan keluargnya untuknya”Sayyidah `Aisyah juga pernah menuturkan riwayat seperti ini dan dia berkata, “Cukuplah al-Qur an bagi kalian, karena orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”.

Kemudian `Aisyah berkata,“Pada suatu ketika Rasulullah saw melewati jenazah seorang perempuan Yahudi yang sedang ditangisi oleh keluarganya, beliaupun bersabda, ‘Mereka menangisi perempuan itu, padahal dia akan diazab di kuburnya”Ibnu Abbas r.a pernah menyatakan dalam sebuah riwayat tentang `Aisyah r.a.,“Allah lah yang membuat orang tertawa dan membuat orang menangis”Maksudnya adalah, jika manusia yang hidup saja tidak memiliki hak menentukan tangis dan tawa, maka bagaimana mungkin hal itu akan menyebabkan seseorang yang sudah meninggal dapat diazab karenanya.

Para ulama berpendapat bahwaseseorang yang sudah meninggal tidak dapat diazab disebabkan tangisan atau ratapan orang yang masih hidup, kecuali jika si mayit pernah berwasiat agar keluarganya menangisinya sepeninggal dirinya.Maksiat seperti itu adalah maksiat yang dosanya akan dipikul oleh yang bersangkutan.

Seperti yang diriwayatkan oleh penyair Jahiliyah bernama Tharfah bin Al-`Abd:Jika aku mati tangisilah aku karena aku pantas ditangisi danrobeklah pakaian kalian, wahai Bani Ma`badSebagian ulama ada yang menafsirkan bahwa maksud kata “azab.siksa” dalam hadis dia atas adalah “rsa sakit” bahwasanya si mayit akan merasa sakit disebabkan maksiat yang dilakukan keluarganya yang masih hidup, Rasulullah pernah bersabdah,“Bukanlah termasuk golongan kami orang-orang yang (ketika berduka) suka memukul-mukul pipi, merobek kantong pakainnya, dan berseru dengan seruan-seruan jahiliyah.”




Bacaan Berikutnya :
Index »



http://kompasnia.blogspot.com




Bagikan Artikel :

0 comments:

Post a Comment

kalo comen yang baik baik saja

 
Support : Creating Website | KompasNia | Wawan Se
Copyright © 2011-2016. BACAAN UNIK All Rights Reserved